SEJARAH MASYARAKAT BETAWI
Nama Betawi sebenarnya berasal
dari beberapa versi asal-usul. Nama Betawi berasal dari kata Batavia,
yang lama-kelamaan berubah menjadi Batavi, kemudian berubah menjadi Betawi.
Pengucapan Betawi sendiri disesuaikan dengan lidah masyarakat lokal yang
kesulitan mengucapkan kata Batavi. Di samping itu, ada beberapa versi lain yang
menjelaskan tentang asal-usul penamaan Betawi, yaitu: Pitawi, berasal dari
bahasa Melayu-Polinesia Purba yang berarti larangan. Betawi, berasal dari
bahasa Melayu Brunei yang digunakan untuk menyebut giwang Flora Guling Betawi,
jenis tanaman perdu yang kayunya bulat seperti guling. Dulu, kayu ini digunakan
untuk pembuatan gagang sejenis keris atau gagang pisau. Ada yang versi nama betawi ini adalah nama dari tanaman
jenis akasia betawi. Tanaman ini banyak tumbuh didaerah Bekasi,
khususnya di kampung Taruma Jaya. Di wilayah lain Indonesia, tanaman ini tumbuh
di daerah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Di sana tanaman ini disebut bekawi.
Tanaman
akasia betawi dapat tumbuh setinggi 4 meter dan daunnya disebut ketepeng. Daun
ketepeng berkhasiat untuk pengobatan penyakit kulit. Pohon ini juga selain
daunnya, akar umbinya juga dapat dijadikan gagang senjata tajam seperti pisau,
keris, dan golok.
Nah,
tanah atau wilayah yang dimana tumbuh tanaman betawi ini kemudian disebut
dengan tanah Betawi. Orang-orang yang berasal dari tanah atau perkampungan
Betawi menyebut dirinya sebagai orang Betawi. Sebutan ini kemudian meluas tak
hanya di daerah Bekasi saja. Tak heran banyak nama perkampungan diambil dari
nama tanaman yang banyak tumbuh di daerah tersebut. Tanaman makasar atau
macassarae contohnya. Tanaman ini dijadikan nama untuk perkampungan Makasar di
Jakarta Timur.
Orang
Betawi termasuk Melayu atau Malayo. Orang Betawi adalah Melayu yang bermukim di
Jawa bagian Barat. Menurut Prof. Nothofer dari Frankfurt University,
perpindahan orang Melayu ke Jawa bagian barat setidaknya terjadi pada abad XX
sebelum Masehi. Umumnya orang Betawi memilih bermukim di daerah yang berdekatan
dengan laut.
Orang-orang
Betawi tersebar di pesisir utara Jawa bagian barat mulai dari sebelah barat
timur Tanjung Pakis, atau Ujung Karawang, hingga ke barat Tanjung Kalapa,
Jakarta Utara, Tanjung Priuk, Tanjung Burung, dan Tanjung Kait di Tangerang.
Wilayah budaya berbeda dengan wilayah administrasi.
Wilayah
budaya suatu suku bangsa adalah wilayah mereka berdiam. Sedangkan wilayah
administrasi adalah wilayah pemerintahan daerah. Wilayah budaya tidak selalu
sama dengan wilayah provinsi. Batas wilayah budaya Betawi di sebelah barat
adalah daerah aliran sungai Cisadane, di sebelah timur adalah daerah aliran
sungai Citarum dan Cilamaya, di sebelah selatan adalah Cibinong, Cileungsi,
sedangkan di sebelah utara adalah Kepulauan Seribu.
Pada
zaman batu orang-orang Betawi diketahui telah berdiam di daerah Jakarta dan
sekitarnya. Terbukti dengan ditemukannya kapak batu yang tersebar hampir
diseluruh wilayah administrasi kota Jakarta. Mereka bercocok tanam dan menangkap
ikan. Tidak diketahui mereka berdatangan dari mana, tetapi jika kita menelaah
peta bahasa Melayu di Jawa bagian barat, maka pada daerah aliran Sungai
Cilamaya, penduduk menggunakan bahasa Melayu, disamping bahasa Sunda dan Jawa.
Di
daerah Karawang terdapat beberapa nama tempat yang bercirikan Melayu seperti
Tana Timbul, Sungai Brantas, dan Sungai Buntu. Selain itu, terdapat tiga
kecamatan yaitu Kecamatan Batu Jaya, Telaga Jaya, dan Pakis Jaya, penduduk berbahasa
Melayu dan mengaku dirinya sebagai orang Betawi.
Di
daerah Batu Jaya dan Pakis Jaya terdapat peninggalan purbakala berupa 24 buah
situs yang oleh penduduk sekitar disebut unur. Situs Batu Jaya, yang meliputi
kecamatan Telaga Jaya luas arealnya 5,5 km.
Dari
beberapa bukti kebudayaan yang telah dikemukakan, ternyatalah bahwa manusia dan
kebudayaan Betawi telah lama berada di daerah Jawa bagian barat. Orang Betawi
adalah Melayu yang bermukim di daerah Jawa bagian barat. Tidak diketahui sedari
kapan mereka berada dan memulai menyebut dirinya orang Betawi.

Komentar
Posting Komentar