CAHAYA ANDALUSIA

 


“Seandainya buku-buku dari perpustakaan Cordoba tidak dibakar, niscaya manusia sekarang sudah bisa melakukan perjalanan antar galaxy.”

[Gustave Le Bon, pemikir dari Prancis]

“Kalau para penguasa Leon, atau Navarre, atau Barcelona membutuhkan dokter bedah, arsitek, insinyur, bahkan penjahit baju, mereka tidak akan mencari ke mana-mana, selain ke Cordoba,” tulis Jhon Brand Trand, seorang tokoh Barat, mendeskripsikan kekagumannya pada kemajuan yang terjadi di Andalusia.

Begitulah Andalusia pada masa itu. Negeri sejuta cahaya, tempat segala hal hebat berawal. Darinya, lahirlah karya yang menakjubkan dan tertuang dalam kitab-kitab yang cemerlang. Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Salah satu titik pusat peradaban itu adalah Masjid Agung Cordoba, yang tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat ilmu pengetahuan. Di sana didirkan madrasah, sebuah lembaga pendidikan tinggi yang setara dengan universitas di masa kini. Tak hanya ilmu agama yang diajarkan, tapi diajarkan juga berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti matematika, fisika, kedokteran, teknik, dan sebagainya.

Para pemuka agama dan bangsawan Eropa berbondong-bondong mengirimkan anak mereka untuk belajar di Cordoba. Sistem pendidikan diongkosi oleh negara dan orang-orang kaya melalui mekanisme wakaf, sehingga anak paling miskin pun dapat mengeyam pendidikan dengan layak. Pada masa itu, Masjid juga difungsikan sebagai madrasah. Kala itu, di Cordoba terdapat 3.837 masjid, sejumlah itu juga lembaga pendidikan terselenggara di sana.

Hebatnya, pada masa itu para ilmuwan telah menemukan teknik untuk mendaur ulang jelaga yang dihasilkan dari pembakaran penerangan di dalam masjid. Jelaga ini kemudian dikumpulkan dalam bejana besar, dengan menggunakan cairan kimia tertentu, diproses menjadi tinta, yang dibagikan gratis pada para penuntut ilmu untuk menulis.

Tak hanya madrasah, di Cordoba saja terdapat 70 perpustakaan dengan perpustakaan Cordoba sebagai perpustakaan utama dan terbesar. Disebutkan, perpustakaan Cordoba telah memiliki setidaknya 500 ribu koleksi buku. Hebatnya, perpustakaan ini pernah dikepalai oleh seorang muslimah yang bernama Lubna Al Qurtubiyah atau Barat menyebutkan Lubna of Cordoba. Ia mendapatkan tugas khusus dari Khalifah al-Hakam II ibn Abdurrahman untuk berburu kitab ke Damaskus, Mesir, Baghdad, hingga Timbuktu di Afrika.

 

Kedokteran dan farmasi merupakan keilmuan yang sangat maju kala itu di Andalusia. Di saat Barat masih menganggap orang dengan gangguan jiwa adalah penyihir yang harus dibakar hidup-hidup, dokter-dokter Muslim di Andalusia telah mampu melakukan operasi pembedahan tengkorak manusia untuk menghentikan pendarahan otak. Dan, hal itu telah dilakukan lebih dari 1000 tahun yang lalu.

Dokter Muslim dari Andalusia bernama Ibn Zuhr yang di Barat dikenal dengan nama Avenzoar adalah dokter yang pertama kali secara akurat mengidentifikasi formasi kanker di kerongkongan, perut, dan rahim, pada abad ke 11 M. Dalam kitabnya, ia menyebut kanker dengan nama penyakit akila, yang artinya “sesuatu yang memakan”.

Di bidang farmasi, ada sebuah kitab berjudul “Al-Jami fi al-Adwiyata al-Mufradat” karya Ibnu al-Baitar, seorang ahli farmasi dan botani dari Andalusia. Kitab ini berisi daftar 1.400 tanaman obat yang diidentifikasi dan dideskripsikan dengan rinci, termasuk nama-nama lokal, sifat-sifat farmakologis dan indikasi penggunaan.

Peradaban Islam telah mengenal apotek dan apoteker sejak tahun 750-an M, sementara Barat baru mengenal apotek dan profesi apoteker pada abad ke-14 M. Apoteker pertama di Inggris bernama Geoffrey Chaucer. Kedokteran Islam juga sudah mengenalkan profesi Al Muhtasib atau pengawas obat-obatan.

                                                                                                                                                    


 Dalam aspek infrastruktur dan arsitektur, Andalusia tak kalah menawan. Salah satu simbol penting di kota Cordoba selain Masjid Agung Cordoba adalah jembatan Cordoba yang terletak di atas sungai Al Wadi Al Kabir (Guadilquivir). Nama asli jembatan ini adalah Al Jisr atau Qantharah ad-Dahr. Jembatan ini dibangun oleh Gubernur Andalusia Samh ibn Malik Al Khaulani pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd Azis.

                  

Kecanggihan arsitektur Andalusia tak diragukan lagi dan membuat tercengang siapa saja yang menyaksikannya, bahkan sampai hari ini. Masterpiece lainnya adalah Istana Madinat Az-Zahra. Istana ini dibangun oleh Abdurrahman III. Di dalamnya terdapat banyak istana, seperti istana Al Zahir, Al Mubhir, Al Qashr, Al Munif, dan banyak lagi.

Istana yang masih tegak berdiri dan bisa kita saksikan saat ini adalah Istana Alhamra. Istana itu diberi nama Alhamra, yang kemudian dilafalkan oleh orang Spanyol sebagai Alhambra. Nama yang diambil dari Sultan Muhammad bin Nasri Al-Ahmar, pendiri dinasti Al-Ahmar. Nama Alhamra juga diambil dari bahasa Arab “hamra”, bentuk jamak dari “ahmar” yang berarti merah. Istana Alhamra seluruh dindingnya berhias pahatan kaligrafi ayat-ayat Allah yang sangat rumit. Dinding pualam dan pilar-pilarnya berhias kaligrafi “La ghaliba illa Allah -Tiada pemenang selain Allah”.



Dari Andalusia Bangsa Eropa Belajar Mandi

Sebuah fakta menarik terungkap dalam sejarah, saat pasukan Thariq ibn Ziyad berperang dengan pasukan Roderick, selain membawa senjata untuk berperang, mereka juga membawa ranting dan akar yang mengeluarkan bau wangi.

 

Mengapa demikian?

 

Ternyata bau tubuh orang-orang Visigoth ini “mengerikan” sekali, yang benar-benar tak tahan bisa muntah dibuatnya. Mereka tak mengenal mandi dan membersihkan hadas dengan benar. Perilaku mereka sangat kotor dan jorok. Jangankan prajurit rendahan, bahkan Ratu Issabela pun tercatat hanya dua kali mandi selama hidupnya, yakni saat dibaptis dan dinobatkan sebagai ratu. Daripada mandi, bangsawan dan orang-orang kaya terbiasa melumuri tubuhnya dengan minyak wangi. Dalam pemahaman mereka, kulit manusia itu seperti kulit telur ayam, yang akan membusuk kalau terendam air.

Di saat bangsa Eropa belum mengenal cara mandi, peradaban Islam telah berhasil memproduksi formula perlengkapan mandi yang masih digunakan hingga kini. Adalah seorang dokter Muslim dari Andalusia, Abu al-Qasim Al Zahrawi (936-1013 M), yang di Barat dikenal dengan nama Albucassis. Melalui kitabnya “Al Tasreef” menjelaskan tentang perawatan tubuh sesuai kaidah kesehatan dan syariat Islam.

Sherwood Taylor dalam bukunya “A History of Industrial Chemistry” menyebutkan bahwa teknik pembuatan sabun baru dikenal Barat pada abad ke -18 M atau 10 abad di belakang peradaban Islam. Itu pun tanpa mau mengakui kalau sumber pengetahuannya berasal dari Islam.

Belum habis sampai disini, cahaya dari bumi Andalusia juga menghasilkan sebuah maha karya dibidang kuliner. Salah satunya adalah Paella. Sebuah makanan dari Spanyol yang berbentuk nasi yang dimasak dengan seafood, seperti kerang, udang, cumi, atau daging ayam/sapi dan aneka sayuran yang dibumbui saffron, minyak zaitun, dan biji-bijian lainnya. Paella menjadi warisan kuliner Islam di Andalusia dan kini diakui sebagai makanan khas Spanyol dan terdaftar sebagai warisan kebudayaan non-bendawi UNESCO pada 2010. Adapula manisan khas Spanyol yang juga menjadi salah satu warisan Muslimin yaitu marzipan. Ada juga es krim yang dalam bahasa Italia disebut cassata. Kata cassata berasal dari bahasa Arab: qashada (krim). Selain menemukan cara membuat es krim, Muslim Andalusia juga mengenalkan tempat untuk menyimpan es, semacam termos yang saat ini digunakan.

Tak  hanya olahan makanan, peradaban Islam di Andalusia juga mengenalkan pembagian menu makan menjadi appetizer (makanan pembuka), main course (makanan utama), dan dessert (makanan penutup). Tata cara makan seperti itu, yang identik dengan western style, baru dikenal di Eropa dari peradaban Islam dan masih digunakan hingga hari ini.


Ironisnya, cahaya dari Andalusia yang pernah menerangi dunia dan mengentaskan Eropa dari kegelapan dan kebodohan itu dengan segala cara coba mereka lenyapkan. Kalau sekedar penemuan “sesederhana” semacam sabun pun mereka tak mau mengakui kalau itu bersumber dari Islam.

Komentar

  1. Wah ini kota favorit saya di Eropa. Sampai mau ngasi nama anak Andalusiana 🤣

    BalasHapus

Posting Komentar