Negeri yang Menua


 

“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”


(QS. Al Anfal: 46)

 

 

Al ittihadu asasun najah.

            “Persatuan adalah pondasi kesuksesan.” Sebuah pepatah Arab yang mengisyaratkan pentingnya memiliki sebuah visi yang jauh. Tak kalah cemerlang pula pepatah dari Afrika yang satu ini, “Jika kau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Namun jika kau ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama.”

 

                        Persatuan menjulang di sana
                        Bersatu, kokoh kita berdiri dengan
                        gagahnya
                        Tak ada kata pisah, hanya bersama
                        Satu kata, satu tekad, kita terjaga
                        Persatuan kita, pusaka ‘tuk
                        Mengangkasa
                        Membangun umat yang kelak
                        Perkasa

 

Abbasiyah tepat pada tahun 1000 Masehi. Kala itu, usia Abbasiyah telah mencapai 250 tahun. Telah banyak hal terjadi; kemenangan, kejayaan, perebutan tahta hingga berujung kekalahan. Pada tahun 1000, Kekhalifahan Abbasiyah sebenarnya masihlah ada, namun terpisah-pisah menjadi beberapa negara. Abbasiyah hanya sebagai simbol, meski masih dimuliakan namun tak punya kekuatan yang besar untuk memimpin seluruh wilayah dunia Islam.

Tahun-tahun menuju 1000 Masehi dan setelahnya banyak terjadi gonjang-ganjing di dunia Islam. Rangkaian musibah yang menimpa kaum muslimin. Keadaan umat kala itu sangat pilu dan penuh luka.

Abbasiyah mulai kehilangan taringnya semenjak para khalifah terlalu mengandalkan unsur-unsur asing dalam menjalankan pemerintahannya. Mereka mulai lapuk, digdayanya temaram, dan akhirnya menuju terbenam ditandai dengan banyak negeri-negeri yang melepaskan diri dari Kekhalifahan Abbasiyah. Salah satunya Negara Thahiriyah. Ia adalah sebuah pemerintahan yang terpisah dari Abbasiyah dan berkedudukan di Khurasan. Mereka adalah negara baru yang memiliki corak pemerintahan sendiri, mereka tidak mengumumkan pemisahan dirinya dari Abbasiyah secara terang-terangan.

Ada juga sebuah negara bernama Ya’fariyah, di Shan’a, Yaman. Disusul kemudian Ziyadiyah yang berkedudukan di Yaman Barat. Ada pula Zaidiyyah yang bermarkas di Tabaristan dan Dailam. Bahkan, di Mesir sendiri pun ada negara yang memisahkan dirinya dengan Kekhalifahan Abbasiyah yang bernama Thuluniyyah.

Meskipun negeri-negeri ini masih bersikap hormat kepada Abbasiyah, namun tentu pasti berdampak buruk. Tak sekuat pendahulunya. Tak main-main dampaknya yaitu; musuh semakin bersemangat untuk datang dan menyerang perbatasan kaum muslimin. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

When two brothers are busy fighting, an evil man can easily attack and rob their poor mother. (Jika dua saudara sibuk bertengkar, maka orang jahat akan lebih mudah menyerang dan merampok ibu mereka yang malang). Itulah gambaran dunia Islam saat itu. Besar, tapi terpisah-pisah, cenderung saling bertikai dan membuat jurang pemisah.

Masa-masa ketika Abbasiyah terpecah inilah yang dinamakan sebagai Al Ashr al Abbasi ats Tsani, fase Abbasiyah yang kedua.


Komentar